Ada fenomena menarik di Jepang, tepatnya di kota Minamata. Pernah dengar bukan? Nama kota ini identik dengan penyakit berbahaya yang pernah memakan korban lebih dari 2000 orang pada pertama kalinya di tahun 1956. Penyakit ini merusak sistem saraf pusat manusia akibat kandungan metil merkuri di dalam tubuh. Bagaimana zat ini bisa masuk ke dalam tubuh? Yup, kegemaran warga Jepang makan ikan lah yang mengakibatkan jatuhnya korban. Namun saat itu populasi ikan dan kerang yang ada di Teluk Minamata tercemar akibat limbah pabrik pupuk kimia yang diproduksi oleh Chisso Corporation. Diperkirakan sebanyak 27 ton metil merkuri yang di buang ke Teluk Minamata sejak 1932-1968.
Peristiwa Minamata berpuluh tahun yang lalu merupakan pukulan telak bagi Jepang, khususnya kota Minamata. Bagi Chisso Corporation sendiri, dampak sosial tidak kalah dengan kompensasi uang yang harus mereka bayar. Diskriminasi bagi karyawan mereka muncul seperti saat melamar pekerjaan atau mencari pasangan hidup. Sehingga banyak dari mereka yang menyembunyikan identitas aslinya.
Warga Jepang terkenal dengan disiplin dan kerja kerasnya. Mereka bisa sukses karena kebiasaan positif ini. Sekarang warga Minamata lebih intens menaggulangi masalah polusi ini untuk memulihkan citra mereka di mata dunia. Untuk skala nasional, pemerintah telah meluncurkan Proyek Pencegahan Polusi, diantaranya reklamasi pantai Teluk Minamata ayng sekarang menjadi Eco park.
Sedangkan dari warga Minamata sendiri, mereka sangat peduli dengan penaggulangan sampah rumah tangga. Di rumah mereka sendiri diharuskan menyediakan 22 jenis tempat pemilahan sampah (domi) yang berbeda. Sampah yang dipilah diangkut ke pusat pengolahan sampah padat. Di sana, botol-botol dipisahkan berdasarkan waarnanya, kaleng minuman dipisahkan berdasarkan bahannya, dan tutup botolnya jg harus dipisah. Sedangkan jenis sampah berbahaya dan beracun, seperti lampu neon dan baterai dikirim ke tempat pengolahan khusus di Hokaido. Tambahan lagi, kebiasaan ini sudah diajarkan sejak kanak-kanak, seperti di SD.
Nah, negara kita sendiri bagaimana kedepannya? Sudahkah bencana-bencana nasional yang pernah terjadi membuat kita sadar dan berusaha memperbaikinya? Entahlah.. mudah-mudahan saya, anda, dan kita semua bisa menjadikan negara kita lebih baik. Kapan? suatu saat nanti akan terjawab…
“mereka bilang tanyakanlah pada rumput yang bergoyang, padahal saya terjebak di tengah gurun pasir” -restandpeace’s mind
Sumber: kompas
0 Responses to “belajar dari tragedi minamata”